Jumat, 04 Februari 2011

ruwatan jawa part 1

BUKU RUWATAN JAWA
Dalam masyarakat Jawa,
ritual ruwat dibedakan dalam
tiga golongan besar yaitu :
1. Ritual ruwat untuk diri
sendiri.
2. Ritual ruwat untuk
lingkungan.
2. Ritual ruwat untuk wilayah.
Dalam masyarakat Jawa,
ruwatan memiliki
ketergantungan pada siapa
yang akan melaksanakan. Jika
ruwatan dilakukan oleh orang
yang memang memiliki
kemampuan ekonomi yang
memadai, maka biasanya
dilakukan secara besar-
besaran yaitu dengan
mengadakan pagelaran
pewayangan. Pagelaran
pewayangan ini berbeda
dengan pagelaran yang pada
umumnya dilakukan.
Pagelaran pewayangan
dilakukan pada siang hari dan
khusus dilakukan oleh dalang
ruwat.
1. Ruwatan Diri Sendiri
Ruwatan diri sendiri dilakukan
dengan cara-cara tertentu
seperti melakukan puasa
(ajaran sinkretisme),
melakukan selamatan,
melakukan tapa brata. Dalam
masyarakat Jawa, bertapa
merupakan bentuk laku atau
sering disebut lelaku. Lelaku
sebagai wujud untuk
membersihkan diri dari hal-
hal yang bersifat gaib negatif
(buruk) juga termasuk dalam
ruwatan. Dengan memasukan
kekuatan gaib dalam diri
yang bersifat positif (baik),
akan memberikan
keseimbangan energi dalam
tubuh. Hal ini sering
dikemukakan oleh para
spiritualis Jawa sebagai
bentuk nasehat untuk
mempelajari hal-hal yang
bersifat baik.
Pada saat ini, ruwatan yang
dilakukan oleh sebagaian
masyarakat Jawa jauh
berbeda dengan kebudayaan
peninggalan pada zaman
Hindu-Budha. Ruwatan lebih
cenderung dilakukan dengan
tidak mengatasnamakan
ruwatan, tetapi pada
dasarnya memiliki tujuan
yang sama. Lelaku sebagai
wujud atau bentuk dari
ruwatan bagi diri sendiri ini
juga sering dilakukan oleh
sebagian mansyarakat Jawa
agar mendapatkan
kebersihan jiwa.
Rituan Ruwatan Diri Sendiri
Menurut Kitab Primbon
Mantrawara III, Mantra Yuda
Jika orang yang merasa selalu
sial, dalam kepercayaan Jawa
harus melakukan upacara
ruwatan terhadap diri sendiri.
Ritual ruwatan ini memiliki
banyak sebutan, antara lain
adalah Ruwatan Anggara
Kencana. Kesialan yang ada
dalam diri manusia dipercaya
timbul dari sedulur papat
limo pancer atau sebagai
pemicunya berasal dari
kekuatan lain (makhluk
halus). Btempat keberadaan
sedulur papat ini dapat
dilakukan pendeteksian.
Pendeteksian yang dilakukan
adalah melalui perhitungan
(petungan) Jawa yaitu : Ha: 1,
Na: 2, Ca: 3, Ra: 4 dan
seterusnya. Pendeteksian
dilakukan dengan menjumlah
neptu orang tuanya dengan
orang yang akan melakukan
ritual ini. Jumlah keduanya
kemudian dibagi 9 dan
diambil sisanya. Jika sisa:
1. Bersemayam di sebelah
kiri-kanan mata kanan,
2. Bersemayam di sebelah
kiri-kana mata kiri,
3. Bersemayam di telinga
kanan,
4. Bersemayam di telinga kiri,
5. Bersemayam di sebelah
hidung kanan,
6. Bersemayam di sebelah
hidung kiri,
7. Bersemayam di mulut,
8. Bersemayam di sekeliling
pusar,
9. Bersemayam di kemaluan,
sebagai syarat dari ritual ini
adalah mengambil sedikit
darah di sekitar tempat
keberadaan bersemayamnya.
Darah ini akan dilabuh
(dilarung). Cara mengambil
darah ini adalah dengan
mengunakan duri yang
kemudian dioleskan pada
kapas puti. Duri dan kapas
nantinya akan dilabuh
bersama-sama dengan syarat
yang lain, berupa :
1. Beras 4 kg,
2. Slawat 1 Dirham (uang
senilai emas 1 gram),
3. Ayam,
4. Teklek (sandal dari kayu,
atau bisa digantikan sandal
biasa),
5. Benang Lawe satu gulung,
6. Telur ayam yang baru saja
keluar (belum ada sehari),
7. Gula setangkep (gula Jawa
satu pasang), gula pasir 1 kg,
8. Kelapa 1 buah.
Kelapa, benang lawe, telur
ayam, beserta kapas dan duri
dilabuh sambil membaca
mantera: “Ingsung ora
mbuwang klapa lan isine,
ananging mbuwang apa kang
ndadekake apesing awakku”.
(Aku tidak membuang kelapa
beserta isinya, tetapi aku
membuang apa yang
menjadikan kesialan bagiku).
Selain beberapa benda yang
dilarung atau dilabuh
tersebut, dikrarkan untuk
disedekahkan kepada siap
yang dikehendakinya,
sebaiknya sodaqoh kepada
orang yang membutuhkan.
2. Ruwatan Untuk Lingkungan
Ruwatan yang dilakukan
untuk lingkup lingkungan
biasanya dilakukan dengan
sebutan mageri atau
memberikan pagar gaib pada
sebuah lokasi. Sebagai contoh
yang sering kita temui dalam
masyarakat sekitar kita
adalah memberikan pagar
gaib. Hal semacam
memberikan pagar gaib pada
sebuah lokasi (anggap saja
rumah) ditujukan untuk
beberapa hal, antara lain :a.
Memberikan daya magis yang
bersifat menahan, menolak,
atau memindahkan daya
(energi) negatif yang berada
dalam rumah atau hendak
masuk kedalam rumah.
Metode semacam ini biasanya
dilakukan dengan menanam
tumbal yang diperlukan,
misalnya kepala kerbau atau
kepala kambing.
b. Memberikan pagar agar
tidak dimasuki oleh orang
yang hendak berniat jahat.
c. Memberikan kekuatan gaib
yang bersifat mengusir atau
mengurung makhluk halus
yang berbeda dalam lingkup
pagar gaib.
Berbagai cara memberikan
pagar gaib ini dapat dilihat
pada buku-buku kuno yang
menceritakan pemagaran diri
manusia, lingkungan dan
wilayah yang cukup luas
dengan kepercayaan
masyarakat Jawa. Tujuan
utama dilakukannya
pemagaran gaib pada
manusia dan pada
lingkungannya ini apabila
tercapai, menurut
kepercayaan Jawa akan
menjadikan lingkungan yang
aman, sejahtera, jauh dari
gangguan makhluk halus.
Pada saat ini, bentuk
pemagaran gaib yang sering
ditemui dalam masyarakat
Jawa sekitar kita berbentuk
menanam rajah, menanam
tumbal, membaca doa untuk
membuat pagar dan masih
banyak metede lainnya.
Acara atau ritual ruwatan
yang ditujukan untuk
memagari sebuah lokasi ini
kemudian berubah dalam
pelaksanaannya karena
sebagian masyarakat Jawa
sekarang sudah cenderung
mempercayai hal-hal yang
bersifat ilmiah.
Ritual ruwatan dalam
masyarakat Jawa yang masih
berlaku biasanya adalah
pemagaran gaib yang
dilakukan dengan
menyediakan berbagai jenis
sesaji dan melakukan ritual
sendiri. Penerapan ritual
ruwatan tidak jauh berbeda
antara satu tujuan dengan
tujuan yang lain. Pelaksanaan
yang umum dilakukan dalam
masyarakat Jawa adalah
dengan menggelar lakon
pewayangan yang berisi
tentang ruwatan itu sendiri.
Dalang dalam menampilkan
pagelarannya menyajikan
salah satu dari beberapa jenis
lakon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar